Limbah cair

Pengelolaan limbah cair

Metode Pengelolaan Limbah

Pengelolaan Limbah Cair

Berikut beberapa literatur terkait pengelolaan air limbah yang bersumber dari Departemen Perindustrian (tahun, 2007). Pengelolaan air limbah bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dilakukan dengan mengurangi jumlah dan kekuatan air limbah sebelum dibuang ke perairan penerima. Tingkat pengurangan yang diperlukan dapat diperkirakan berdasarkan data   karakteristik air limbah dan persyaratan baku mutu lingkungan yang berlaku. Berbagai teknik pengelolaan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini.

Secara umum, pengolahan limbah cair dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengolahan primer, pengolahan sekunder, dan pengolahan tersier. Pengolahan primer merupakan pengolahan secara fisik untuk menyisihkan benda-benda terapung atau padatan tersuspensi” terendapkan (settleable solids). Pengolahan primer ini berupa penyaringan kasar, dan pengendapan primer untuk memisahkan bahan inert seperti butiran pasir /tanah. Saringan kasar digunakan untuk menahan benda berukuran relative besar. Karena butiran pasir / tanah merupakan bahan non-biodegradable dan dapat terakumulasi di dasar instalasi pengolahan limbah cair, maka   bahan tersebut harus dipisahkan dari limbah cair yang akan diolah.

Penyisihan butiran pasir atau tanah dapat dilakukan dengan bak pengendapan primer. Pengendapan primer ini umumnya dirancang untuk waktu tinggal sekitar 2 jam. Dengan pengolahan sekunder BOD dan TSS dalam limbah cair dapat dikurangi secara signifikan, tetapi effluent masih mengandung amonium atau nitrat, dan fosfor dalam bentuk terlarut. Kedua bahan ini erupakan unsur hara (nutrien) bagi tanaman akuatik. Jika unsur nutrient ini dibuang ke perairan (sungai atau danau), akan menyebabkan pertumbuhan biota air dan alpa secara berlebih yang dapat mengakibatkan eutrofikasi dan pendangkalan badan air tersebut. Oleh karena itu, unsure hara tersebut perlu dieliminasi dari efluen. Nitrogen dalam effluent instalasi pengolahan sekunder kebanyakan dalam bentuk senyawa ammonia atau ammonium, tergantung pada nilai pH. Senyawa amoniak ini bersifat toksik terhadap ikan, jika konsentrasinya cukup tinggi. Permasalahan lain yang berkaitan dengan amonia adalah penggunaan oksigen terlarut selama proses konversi dari amonia. Jadi nitrat oleh mikroorganisme (nitrifikasi).Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas effluent dibutuhkan pengolahan tambahan, yang dikenal sebagai pengolahan tersier (advanced waste water treatment) untuk mengurangi atau menghilangkan konsentrasi BOD, TSS dan nutrien (N,P). Proses pengolahan tersier yang dapat diterapkan antara lain adalah filtrasi pasir, eliminasi nitrogen (nitrifikasidan denitrifikasi), dan eliminasi fosfor (secara kimia maupun biologis)

Terdapat teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan, secara umum terdapat tiga metoda pengolahan (Tjokrokusumo, 1995) :

  1. Pengolahan secara fisika. Pada umumnya sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan mudah mengendap atau bahan-bahan yang mengapung mudah disisihkan terlebih dahulu. Proses flotasi banyak   digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses berikutnya.
  2. Pengolahan secara kimia. Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk   menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa phospor dan zat organik beracun, dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang   diperlukan. Pengolahan kimia dapat memperoleh efisiensi yang tinggi akan tetapi biaya menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia.

Pengolahan secara biologis. Semua polutan air yang biodegradable dapat diolah biologis, sebagai pengolahan skunder, pengolahan secara biologis dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah dikembangkan berbagai metode pengolahan biologis dengan segala modifikasinya. Misalnya di dalam reaktor pertumbuhan melekat (attached growth reaktor), mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung seperti pada batu kerikil, dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya, oleh karena itu reaktor ini disebut juga sebagai bioreaktor film tetap, berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini   antara lain : trickling filter, cakram biologi, filter terendam dan reaktor fludisasi. Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%. Apabila BOD air buangan tidak melebihi 4000 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob.

Incoming search terms:

  • pengolahan limbah cair
  • pengelolaan limbah cair
  • metode pengolahan limbah cair
  • 3 metode pengolahan sekunder limbah cair
  • cara pengolahan limbah cair
  • proses pengolahan primer limbah cair
  • metode pengolahan air limbah
  • penanganan limbah cair
  • pengolahan primer
  • Metode pengolahan limbah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shop Diets

Weight Loss Diet

Blogroll

Recent Posts

About Me

Image and video hosting by TinyPic

    Secara garis besar blog yang sedang anda baca ini berisi beberapa katagori :

    INSPEKSI SANITASI Antara lain berisi checklist indikator dan parameter untuk mengukur dan menilai aspek sanitasi pada berbagai jenis sarana sanitasi.

    SANITARIAN GUIDE Berisi antara lain petunjuk teknis dan berbagai literature yang mendukung tugas dan fungsi Sanitarian maupun Public Health.

  • PUBLIC HEALTH INFO
  • Berisi berbagai informasi public health yang up to date.

  • INFO DIET
  • Berisi informasi diet dan tips hidup sehat lainnya.

    Best Regards

    MUNIF ARIFIN

    Dinkes Kab. Lumajang
    Email : munif.arifin@gmail.com