Rabies

Virus rabies

Rabies

RABIES - PENYEBAB, CARA PENCEGAHAN, DAN CARA PENANGANANNYA

Rabies adalah suatu penyakit menular akut yang menyerang susunan syaraf pusat. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian hampir 100 %. Rabies dapat menyerang semua hewan berdarah panas serta manusia, dengan jumlah korban sekitar 55,000 setiap tahun. Dari sejumlah korban ini sebagian besar di negara sedang berkembang, dengan berjuta yang lainnya terpapar gigitan. Anjing piaraan merupakan binatang penular terpenting di negara berkembang, sedangkan binatang liar merupakan penular penting di negara maju.

Tingkat kesembuhan penyakit rabies, antara lain dapat dijelaskan bahwa tercatat lima orang bisa selamat dari rabies setelah tergigit dan sempat diimunisasi sebelum terjangkit, dengan hanya hanya satu orang dalam sejarah yang berhasil sembuh dari rabies setelah terjangkit

Salah Satu Penyebab Rabies

Penyebab Rabies ?

Penyakit Rabies di Indonesia pertama kali ditemukan pada hewan sejak 1884. Sedangkan pada manusia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat. Menurut data sampai tahun 2009, kasus rabies ditemukan di 24 provinsi di Indonesia. Sedangkan daerah dengan katagori endemis tinggi didapatkan di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara Nusa tenggara Timur, Lampung dan Sumatra Barat. Sedangakn menurut catatan Departemen Kesehatan pada kurun waktu tahun 2006 – 2008 tercatat sebanyak 18.945 kasus gigitan hewan penular rabies

Patogenesis Rabies dapat dijelaskan bahwa virus ditularkan lewat gigitan yang bersifat neurotropic. Virus ini dapat masuk dalam tubuh melalui saraf tepi kemudian menuju SSP/otak melalui axoplasma saraf tepi, selanjutnya berkembang biak di otak. Sedangkan secara centrifugal : mengalir dari otak menuju ke organ yang dipersarafi, termasuk otot faring, kelenjar liur dan mata.

Masa inkubasi rabies pada hewan :3 -6 minggu setelah gigitan, sedangkan pada manusia 2-3 minggu – 1 tahun, tergantung dari parah tidaknya luka gigitan, jauh dekatnya luka dengan susunan syaraf pusat, banyaknya syaraf pada luka gigitan, serta jumlah virus yang masuk kedalam luka gigitan dan jumlah luka gigitan.

Perjalanan penyakit rabies dibagi dalam beberapa tahap, antara lain :

Perjalanan penyakit Rabies pada hewan : Fase Prodormal, Fase Eksitasi, dan Fase Paralisa.

  • Fase Prodormal: Hewan mencari tempat dingin dan menyendiri , tetapi dapat menjadi lebih agresif dan nervus, pupil mata melebar dan sikap tubuh kaku (tegang). Fase ini berlangsung selama 1-3 hari. Setelah fase Prodormal dilanjutkan fase Eksitasi atau bisa langsung ke fase Paralisa.
  • Fase Eksitasi: Hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dan memakan barang yang aneh-aneh. Selanjutnya mata menjadi keruh dan selalu terbuka dan tubuh gemetaran , selanjutnya masuk ke fase Paralisa.
  • Fase Paralisa: Hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuh dan berakhir dengan kematian.

Tanda-tanda rabies pada hewan

1. Bentuk ganas (Furious rabies) Masa eksitasi panjang, kebanyakan akan mati dalam 2-5 hari setelah tanda-tanda terlihat.

  • Hewan menjadi penakut atau menjadi galak.
  • Senang bersembunyi di tempat-tempat yang dingin, gelap dan menyendiri tetapi dapat menjadi agresif .
  • Tidak menurut perintah majikannya.
  • Nafsu makan hilang dan air liur meleleh tak terkendali.
  • Hewan akan menyerang benda yang ada disekitarnya & memakan barang, benda-benda asing seperti batu, kayu dsb.
  • Menyerang dan menggigit barang bergerak apa saja yang dijumpai.
  • Kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan.
  • Ekor diantara 2 (dua) paha.

2. Bentuk diam (Dumb Rabies) Masa eksitasi pendek, paralisa cepat terjadi.

  • Bersembunyi di temapat yang gelap dan sejuk
  • Kejang-kejang berlangsung sangat singkat, bahakan sering tidak terlihat.
  • Lumpuh, tidak dapat menelan, mulut terbuka.
  • Air liur keluar terus menerus (berlebihan).
  • Mati

3. Bentuk Asystomatis.

  • Hewan tidak menunjukkan gejala sakit.
  • Hewan tiba-tiba mati

Sedangkan tanda-tanda rabies pada manusia

  • Riwayat gigitan dari hewan seperti anjing, kucing dan kera.
  • Nafsu makan hilang, sakit kepala, tidak bisa tidur, demam tinggi, mual/muntah-muntah.
  • Pupil mata membesar, bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan.
  • Adanya rasa panas (nyeri) pada tempat gigitan dan menjadi gugup.
  • Rasa takut yang sangat pada air, peka terhadap suara keras, cahaya dan angin/udara.
  • Air liur dan air mata keluar berlebihan.
  • Kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan dan akhirnya meninggal dunia
  • Biasanya penderita akan meninggal 4-6 hari setelah gejala klinis atau tanda-tanda penyakit pertama timbul.

Jika kita mengalami kejadian digigit binatang yang potensial dapat menularkan rabies, maka beberapa hal berikut ini dapat anda lakukan :

  • Cuci luka gigitan dengan sabun atau dengan deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Kemudian luka diberi alkohol 70% atau Yodium tincture. Setelah itu pergi secepatnya ke Puskesmas atau Dokter yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan.
  • Laporkan kepada petugas Dinas Peternakan setempat tentang kasus penggigitan tersebut.
  • Hewan yang menggigit dikirim ke rumah observasi hewan Dinas Peternakan untuk diobservasi dan diperiksa kesehatannya selama 10 – 14 hari.
  • Bila hewan yang menggigit tidak diketahui atau tidak dapat ditemukan, maka orang yang tergigigit harus dibawa ke rumah sakit khusus infeksi.

Sedangkan tindakan yang dapat dilakukan terhadap hewan penggigit

  • Bila hewan peliharaan atau ada pemiliknya ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi selama 14 hari.
  • Bila hasil observasi negatif Rabies maka harus divaksinasi Rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya.
  • Bila hewan liar / tidak ada pemiliknya usahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi
  • Setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan, setelah terlebih dahulu diberi vaksinasi Rabies.
  • Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Penanganan Luka Gigitan

  • Di tempat layanan kesehatan (bagi petugas kesehatan); kecuali hanya tergores di lapisan epidermis dan tak berdarah, sekecil apapun luka itu harus dilakukan explorasi karena pada luka gigitan, kerusakan jaringan tubuh di bagian dalam lebih serius dibandingkan dengan luka yang kelihatan di permukaan kulit.
  • Untuk mempermudah akses, setelah diberikan local anasthesia lakukan insisi dan pastikan dapat membersihkan luka hingga ke bagian dalam.
  • Pembersihan dengan bahan iodine bisa dicampur perhidrol (H2O2) 3% dan bilas dengan cairan NaCl 0,9% dibarengi dengan nekrotomi yakni menghilangkan / memotong jaringan yang telah mati dan sangat kotor.
  • Luka dibiarkan terbuka, rawat basah dengan kompres NaCl plus antiseptik dan dievaluasi 1 – 2 hari kemudian.
  • Untuk luka yang luas dengan banyak gigitan; torehan atau insisi dapat diperpanjang karena sangat mungkin kerusakan di bagian dalam berhubungan antara luka gigitan (bite mark) satu dengan yang lain.
  • Prosedur pencucian luka sama seperti di atas, namun jika insisi terlalu panjang (lebih dari 2 cm) penutupan luka dapat saja dijahit longgar menggunakan benang non absorbable dengan tidak lupa menyisipkan drain ke bagian dalamnya.
  • Drain ini bisa menggunakan material yang diambilkan dari glove atau handschoon. Dan dibuka 1-2 hari berikutnya.
  • Pemberian vaksin Rabies (untuk kasus resiko terjangkit Rabies); bagi pasien yang belum pernah menerima vaksinasi ini, setengah dari dosis pemberian vaksin Rabies disuntikkan di sekitar luka gigitan.
  • Pemberiannya diulang pada hari ke-3, 7, 14 dan hari ke-28 dengan masing-masing dosis 0,5 ml (cell culture rabies vaccine) tidak dibedakan baik untuk dewasa maupun anak-anak.
  • Pada luka yang lebih parah -lebih dari satu gigitan dan masuk hingga ke lapisan subdermal- pemberian vaksin sebaiknya dikombinasi dengan Human Rabies Immunoglobulin (HRI) cukup pada saat therapy awal saj
  • Diberikan juga kombinasi obat antibiotika yang lain untuk mengantisipasi kemungkinan infeksi oleh kuman atau bakteri jenis lainnya. Ditambahkan juga obat-obat anti-inflamasi dan anti nyeri.
  • Berikan penjelasan sesuai faktor resiko; perhatikan lokasi luka dan jumlah gigitan. Luka yang mengenai bagian tubuh dengan perkiraan banyak susunan saraf perifer di sekitarnya (misalnya di kepala atau bagian lain tubuh yang tertutup pakaian) mempunyai resiko lebih tinggi untuk kemungkinan tertular Rabies.
  • Jelaskan juga masa inkubasi dan gejala klinis yang bisa ditimbulkannya.

Incoming search terms:

  • penanganan rabies
  • patogenesis rabies
  • penganan rabies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Shop Diets

Weight Loss Diet

Blogroll

Recent Posts

About Me

Image and video hosting by TinyPic

    Secara garis besar blog yang sedang anda baca ini berisi beberapa katagori :

    INSPEKSI SANITASI Antara lain berisi checklist indikator dan parameter untuk mengukur dan menilai aspek sanitasi pada berbagai jenis sarana sanitasi.

    SANITARIAN GUIDE Berisi antara lain petunjuk teknis dan berbagai literature yang mendukung tugas dan fungsi Sanitarian maupun Public Health.

  • PUBLIC HEALTH INFO
  • Berisi berbagai informasi public health yang up to date.

  • INFO DIET
  • Berisi informasi diet dan tips hidup sehat lainnya.

    Best Regards

    MUNIF ARIFIN

    Dinkes Kab. Lumajang
    Email : munif.arifin@gmail.com