DAMIU

Standar Kesehatan DAMIU

Standard Kesehatan Depot Air Minum Isi Ulang

Prinsip Pengolahan pada Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU)

 

Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum, sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang persyaratan kualitas air minum

 

Air minum harus memenuhi syarat-syarat kesehatan, baik fisik kimia, radio aktif maupun mikrobiologi supaya tidak mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia (Depkes RI., 2010). Air yang secara fisik tidak memenuhi syarat kesehatan akan dengan mudah dihindari untuk diminum oleh manusia, misalnya air yang berbau, tidak jernih maupun terdapat rasa yang tidak biasa. Air minum yang tercemar bahan kimia dan radio aktif mengakibatkan gangguan kesehatan yang umumnya bersifat kronis dan jangka panjang, sedangkan untuk mendeteksinya memerlukan pemeriksaan yang lebih rumit dan lebih mahal.

 

Pencemaran bakteriologi dalam air minum lebih cepat menimbulkan gejala penyakit pada manusia, sehingga pemeriksaan bakteriologis digunakan untuk mengetahui kualitas air minum. E.coli merupakan indikator yang spesifik untuk mengetahui kualitas mikrobiologis air minum. ( Stevens et al., 2001).

 

Bakteri tersebut biasanya terdapat pada tinja manusia dan binatang berdarah panas sehingga digunakan sebagai indikator pencemaran tinja. Terdapatnya E. coli dalam air minum menandakan telah terjadi kontaminasi tinja manusia maupun mamalia berdarah panas, yang dapat diartikan terdapat mikro organisme patogen lainnya dalam air minum tersebut berupa virus, bakteri maupun protozoa.

 

Kelompok Coliform merupakan mikroorganisme yang paling umum dipakai sebagai indikator bakteriologis kualitas air. Kelompok Coliform lainnya mampu membentuk gas dalam waktu 48 jam pada suhu 350C. Bakteri E. coli terdapat dalam tinja merupakan bakteri yang mampu membentuk gas dalam waktu 24 jam pada suhu 44,50C. mengingat bakteri E. coli merupakan ciri pencemaran tinja, pengukuran E. coli dipilih untuk pemantauan kualitas air baku dan untuk menunjukkan potensi adanya bakteri patogen pada sumber air (Anonim, 2001).

Keuntungan dari pengujian Coliform adalah karena organisme Coliform cenderung bertahan lebih lama di air dan lebih tahan terhadap klorinasi dibandingkan dengan bakteri E. coli maupun bakteri patogen yang sering ada dalam air. Menurut standart WHO, dalam 100 ml air minum yang diperiksa tidak boleh mengandung total Coliform maupun E. coli, jadi harus 0 /100 ml air (WHO, 2001). Untuk air bersih karena baru diminum setelah dimasak masih diperbolehkan mengandung total Coliform kurang dari 50/100 ml untuk non perpipaan dan kurang 10/100 ml untuk perpipaan (Depkes RI, 1996).

 

Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) adalah badan usaha yang mengelola air minum untuk keperluan masyarakat dalam bentuk curah. Industri pengolahan air minum dalam skala kecil yang dikenal dengan nama (DAMIU) telah berkembang dengan sangat pesat, ini dapat dikatakan telah membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat atas penyediaan air minum dengan harga yang pantas dan terjangkau.  Jenis usaha ini harus mendapat pemantauan yang optimal, sehingga kualitas air hasil produksi yang dihasilkan DAMIU tidak merugikan kesehatan masyarakat.

 

Perkembangan yang pesat pada kegiatan usaha ini, antara lain didorong oleh kenyataan banyaknya masyarakat yang mengisi ulang kemasan galon air minum dalam kemasan (AMDK). Pengisian AMDK galon bermerek relatif mahal, sedangkan Depot Air Minum Isi Ulang menawarkan pengisian ulang air minum dengan harga lebih murah.

Secara prinsip  proses pengolahan air yang dilakukan pada DAMIU (sebagaimana proses pengolahan lainnya),  harus mampu menghilangkan semua jenis pencemar, baik fisik, kimia maupun mikrobiologi.  Sedangkan secara garis besar, proses pengolahan air pada Depot Air Minum Isi Ulang terdiri atas penyaringan (filtrasi) dan desinfeksi.

Pada proses filtrasi, air akan melewati filter dari bahan silica untuk menyaring partikel kasar. Setelah itu memasuki tabung karbon aktif untuk menghilangkan bau. Tahap berikutnya adalah penyaringan air dengan mata saringan berukuran Sepuluh mikron kemudian melalui saringan satu mikron untuk menahan bakteri. Air yang keluar dari saringan satu mikron yang dinyatakan telah bebas dari bau dan bakteri, ditampung pada tabung khusus yang berukuran lebih kecil dibanding tabung penampung air baku. Selanjutnya adalah tahap mematikan bakteri yang mungkin masih tersisa dengan menggunakan sinar ultraviolet, ozonisasi dan Reversed Osmosis (Suprihatin, 2003).

 

Pada proses desinfeksi, sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu metode pengolahan air adalah dengan penyinaran sinar ultraviolet. Spesifikasi sinar jenis ini antara lain mempunyai panjang gelombang pendek serta memiliki daya anti mikroba yang kuat. Cara kerjanya adalah dengan absorvis oleh asam nukleat tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan pada permukaan sel. Air dialirkan melalui tabung dengan lampu ultraviolet berintensitas tinggi, sehingga bakteri terbunuh oleh radiasi sinar ultraviolet perlu diperhatikan bahwa intensitas lampu ultraviolet yang dipakai harus cukup. Untuk sanitasi air yang efektiv diperlukan intensitas sebesar 30.000 MW sec/cm2 (Micro Watt detik per sentimeter per segi).

Radisasi sinar ultraviolet dapat membunuh semua jenis mikroba bila intensitas dan waktunya cukup. Tidak ada residu atau hasil samping dari proses penyinaran dengan ultraviolet, namun agar efektif, lampu Ultra Violet harus dibersihkan secara teratur dan harus diganti paling lama satu tahun. Air yang akan disinari dengan Ultra Violet harus tetap melalui filter halus dan karbon aktif untuk menghilangkan partikel tersuspensi, bahan organik, Fe atau Mn jika konsentrasinya cukup tinggi.

Metode lain desinfeksi, dilakukan dengan ozonisasi (sterilisasi air dengan ozon). proses ozonisasi sebenarnya telah dikenal selama kurang lebih 100 tahun yang lalu. Proses ozonisasi pertama kali diperkenalkan oleh Nies dari Negara Perancis sebagai metode untuk mensterilisasi air minum pada tahun 1906. Penggunaan proses ozonisasi ini kemudian berkembang cepat. Hingga hanya dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun telah terdapat kurang lebih 200 lokasi pengolahan air minum yang menggunakan sistem ozonisasi di Amerika Serikat. (Prasetyo dalam Jasman, 2007).

Desinfeksi dengan sistem  ozonisasi, kualitas air dapat bertahan selama kurang lebih satu bulan dan masih aman dikonsumsi, sedangkan yang tidak menggunakan ozonisasi, kualitas air hanya dapat bertahan beberapa hari saja air sudah tidak layak dikonsumsi, karena tanpa ozonisasi, pertumbuhan bakteri dan jamur berlangsung cepat (Suseno, 2007).

Metode lain yang umum digunakan pada tahap sterilisasi, menggunakan sistem RO (Reversed Osmosis). Metode sterilisasi ini merpakan proses pemurnian air melalui membran semi permiabel dengan tekanan tinggi (50-60 psi). Membran semi permeabel merupakan selaput penyaring skala molekul yang dapat ditembus oleh molekul air dengan mudah, akan tetapi tidak dapat atau sulit dilalui oleh molekul lain yang lebih besar dari molekul air. Membrane RO menghasilkan air murni 99,99%. Diameternya lebih kecil dari 0,0001 mikron (500.000 kali lebih kecil dari sehelai rambut). Fungsinya adalah untuk menyaring mikroorganisme seperti bakteri maupun virus. (Jasman, 2007)

Bahan tambahan yang diperlukan dalam operasional unit pengolah air sistem RO antara lain : Kalium Permangangan (KMnO4), anti scalant, anti fouling dan anti bakteri. Kalium permanganat digunakan sebagai bahan oksidator terhadap zat besi, mangan dan bahan organik dalam air baku.Sistem pengolahan air sangat tergantung pada kualitas air baku yang akan diolah. Air baku yang buruk, seperti adanya kandungan klorida dan Total Disolve Solid (TDS) yang tinggi, membutuhkan pengolahan dengan sistem RO sehingga TDS yang tinggi dapat diturunkan atau dihilangkan.

Incoming search terms:

  • peraturan tentang depot air minum
  • damiu
  • standar depot air minum
  • standar air minum menurut depkes
  • syarat air minum yang memenuhi standar
  • aturan depo isi ulang
  • aturan tds pada depot air minum
  • proses produksi air minum isi ulang
  • sarat tds depot air minum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shop Diets

Weight Loss Diet

Blogroll

Recent Posts

About Me

Image and video hosting by TinyPic

    Secara garis besar blog yang sedang anda baca ini berisi beberapa katagori :

    INSPEKSI SANITASI Antara lain berisi checklist indikator dan parameter untuk mengukur dan menilai aspek sanitasi pada berbagai jenis sarana sanitasi.

    SANITARIAN GUIDE Berisi antara lain petunjuk teknis dan berbagai literature yang mendukung tugas dan fungsi Sanitarian maupun Public Health.

  • PUBLIC HEALTH INFO
  • Berisi berbagai informasi public health yang up to date.

  • INFO DIET
  • Berisi informasi diet dan tips hidup sehat lainnya.

    Best Regards

    MUNIF ARIFIN

    Dinkes Kab. Lumajang
    Email : munif.arifin@gmail.com